Pages

Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 November 2012

Khas Wisata Gunung Kawi, Wonosari


Ada banyak hal unik yang berhubungan dengan kepercayaan yang dapat kita temukan di Gunung Kawi. Masuk ke area Pesarean Gunung Kawi, kita seperti berada di lokasi kota Tionghoa jaman dulu. Nuansa Tionghoa begitu kental di sekitar bangunan yang ada. Selain itu semua pelayan Pesarean Gunung Kawi juga mengenakan adat pakaian jawa. Semakin menambah suasana yang khas jika kita berada di sini.
Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena ‘dikeramatkan’ dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangkan keberuntungan, antara lain:

a. Rumah Padepokan Eyang Sujo

Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro.

b. Guci Kuno

Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama ‘janjam’. Mungkin ingin menganalogkan dengan air zamzam dari Padang Arafah yang memiliki aneka khasiat. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini akan membikin seseorang menjadi awet muda.

c. Pohon Dewandaru

Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman. Untuk mendapat ‘simbol perantara kekayaan’, para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet. Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.

d. Ciam Si

Bila kita masuk ke klenteng, maka kita bisa melakukan Ciam Si, yaitu sebuah ritual “Meramal Nasib” dimana kita akan disuruh untuk mengocok sebuah wadah yang berisi petunjuk-petunjuk nasib kita sampai salah satu diantaranya terjatuh ke lantai, maka itulah yang menjadi “peruntungan” kita pada periode ini. Bila kita merasa bingung dengan artinya, karena kebanyakan kata-kata didalam lembar itu dikatakan secara abstrak, maka kita dapat menggunakan jasa penterjemah yang ada di bagian depan klenteng untuk mengartikan apa yang sebetulnya menjadi maksud dari lembar tersebut.

NB : Berbagai Sumber 

Taurus Vocation

Selasa, 27 November 2012

Makam Karaeng Galesong, Ngantang

Sejarah menuturkan, perjuangan Karaeng Galesong berlanjut ke tanah Jawa. Ia berlabuh di wilayah timur pulau Jawa dengan jumlah pasukan yang besar. Belum ada data yang jelas namun ada yang mengatakan lebih dari 4.000 prajurit. Di masa itu di wilayah Jawa Timur terdapat dua penguasa besar dan ditakuti, yakni Adipati Anom di Mataram dan Trunojoyo di Madura. Kedua penguasa besar ini saling bermusuhan. Karaeng Galesong diakrabi oleh Trunojoyo dan mendapat restu menikahi keponakan Trunojoyo.

Pelarian Karaeng Galesong ke tanah Jawa dikarenakan kekalahan kerajaan Gowa oleh Belanda pada tahun 1669. Ia tidak ingin berada di bawah jajahan Belanda, karenanya memilih untuk meninggalkan tanah Gowa bersama beberapa kerabat kerajaan. Mereka antara lain Karaeng Tallo Sultan Harunnarrasyid Tumenanga ri Lampana dan Daeng Mangappa, saudara kandung Karaeng Tallo. Dua lainnya paling terkenal adalah Karaeng Galesong Tumenanga Ritappana, dan Karaeng Bontomarannu Tumma Bicara Butta Gowa
Sebelum perkawinan Karaeng Galesong, Trunojoyo meminta Karaeng Galesong dengan pasukannya membantu menyerang Gresik dan Surabaya yang berada dalam kekuasaan Adipati Anom, Pasukan Karaeng Galesong seperti ditulis ahli sejarah Belanda, Degraff, Karaeng Galesong berhasil mengobrak-abrik pasukan Adipatai Anom yang kemudian lari ke jawa Tengah.

Menurut catatan sejarah, pada 21 November 1679 sang panglima wafat di daerah Ngantang Kabupaten Malang. Kisah kematiannya diperoleh sejarawan Leonard Andaya dari Kolonel Archief, yang catatannya sekarang masih tersimpan rapi di Denhaag.

Abadi di Ngantang
Adalah Ngantang, sebuah daerah di kabupaten Malang, tidak jauh dari kota Batu yang menjadi peristirahatan terakhir sang karaeng. Daerah ini sejuk dan asri, dan di sinilah terdapat sebuah pemakaman yang luasnya sekitar seratus meter persegi, dengan beberapa pohon kamboja tua.

Suasana pemakaman nampak bersih, hanya terdapat beberapa batu nisan dengan tatanan batu bata tua yang sudah berlumut dan sebuah gundukan agak memojok dengan nisan yang telah berlumut pula. Diyakini makam ini adalah kerabat Karaeng Galesong. Tidak jauh dari gundukan tersebut, terdapat batu nisan dari marmer yang tampaknya belum begitu lama dipasang. Di sinilah makam Karaeng Galesong berada. Kuburan yang ditata dengan tumpukan batu bata dipenuhi lumut. Di antara nisan dan kuburan, berdiri tiang sekitar satu meter dengan bendera merah putih. Di bawah kibaran bendera terdapat tulisan kata “pejuang”.

Pada prasasti marmer di kuburan itu, terukir tulisan berwarna emas menggunakan bahasa Arab, yang terjemahan bebasnya berarti, “di sinilah dimakamkan seorang pejuang yang berjuang dijalan Allah.” Di bawah prasasti ini terdapat tulisan nama sebuah kelompok pengajian, yang menyebut diri warga Malang keturunan Galesong.

Bugis Makassar di Malang
Masyarakat Bugis Makassar memang banyak bermukim di Malang dan sekitarnya. Karaeng Galesong pun menjadi kebanggaan. Ziarah ke makam sang karaeng merupakan rutinitas. Dua tahun lalu, misalnya, masayarakat Sulawesi-Selatan yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS Malang Raya) dan Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Indonesia Sulawesi-Selatan (IKAMI Sul-Sel Cab. Malang) mengadakan acara memperingati hari korban 40.000 Jiwa, yang salah satu kegiatannya adalah berziarah ke makam Karaeng Galesong.

Salah satu artikel di buletin Anging Mamiri yang diterbitkan oleh KKSS Malang raya, Salahauddin Basir menuliskan bahwa Dr. Wahidin Sudirohusodo, motor pergerakan Budi Utomo masih merupakan keturunan Galesong. Pada tahun 60-an, seorang guru besar di Universitas Gajah Mada bernama Prof. Mr.Djojodiguno, pakar hukum yang terkenal, sering bertutur kepada mahasiswanya bahwa ia berdarah Makassar, merupakan keturunan Karaeng Galesong. Tentu kita juga masih ingat, Setiawan Djodi, seniman dan budayawan yang dinobatkan sebagai keturunan Karaeng Galesong beberapa tahun lalu.

Tepatnya di Desa Kaumrejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang,Jawa Timur (kira-kira 50km arah barat laut kota Malang), Dan menurut catatan di koran tersebut (lupa bawa karena ketinggalan di kampung), Karaeng Galesong adalah putra dari Sultan Hasanuddin, Ayam Jantan dari Timur yang melarikan diri ketika kerajaan Gowa/Bone dikalahkan Belanda dan melarikan diri ke tanah Jawa. Keberadaannya baru diketahui ketika ada upaya menjadikan Karaeng Galesong ini sebagai pahlawan nasional. Sampai-sampai data tentang desa tempat dia mengasingkan diri dicari sampai di buku-buku peninggalan Belanda di Musium Leiden.

Disebut Karaeng Galesong menetap dan dimakamkan di desa Hantang (sekarang Ngantang), beliau oleh warga setempat dipanggil Mbah Raja/Rojo. Dan benar tidaknya dia ini berasal dari Sulawesi Selatan telah dibenarkan oleh cicit Raja Bone terakhir yang akhirnya makam itu direnovasi oleh Pemerintah Daerah Bone dan kepala desa Kaumrejopun mendapat berkah dari situ karena diundang terbang ke Bone, Sulawesi Selatan sebagai wujud penghormatan atas terpeliharanya makam Mbah Raja alias Karaeng Galesong ini.

NB : Berbagai Sumber

Taurus Vocation

Senin, 26 November 2012

"Kasunyatan Jawi" Tugu Tulak Bebaya Asteroit th. 2029 Sineksenan Gedangan

Penghayat kepercayaan dengan nama organisasi Kasunyatan Jawi ini berusaha untuk melestarikan adat istiadat jawa yang dirasa sudah hilang lama. Sangat menyayangkan kenapa kebudayaan kita tidak bisa menjadi tuan rumah di Negara Kita sendiri. Menjadikan ajaran lain menguasai dan berusaha merusak adat kebudayaan kita. Tamu menata yang punya rumah, yang berarti sama dengan menjajah. Kebudayaan dan adat kita ini sudah terjajah. Ini yang menjadi pemikiran semua saudara kita pelaku adat. Tulis Ki Ageng Sri Widadi, Panuntun Agung Kasunyatan Jawi dalam serat "Kasunyatan Jawi"


image 1. Prasasti yang dibuat, dengan tulisan jawa Hanacaraka
yang maksudnya adalah bahwa nanti di tahun 2029
batu asteroit dari luar angkasa akan menabrak bumi dan
dan mengakibatkan kiamat. Akhirnya di buat tugu tulak
penangkalnya agar asteroit tidak sampai menabrak bumi
sehingga bumi bisa terhindar dari kiamat


image 2.Tugu tulak terbuat dari bebatuan yang membentuk
tekstur yang amat kasar sekali kemudian di cat warna
putih dan backgroun kuning agar kesan teksturnya lebih berasa


image 3. Dua bangunan arsitektur dari kayu.
Bangunan yang berwarna-warni, terdiri dari 5 warna
adalah simbol dari pembentuk alam semesta ini,
merupakan tempat tinggalnya Eyang Sapu Jagad yang
dulunya melakukan mukso (hilang bersama-sama dengan raganya)
Akhirnya di buatkan tempat tinggal dengan 5 warna tersebut.
Warna
merah melambangkan Matahari,hijau- air, kuning-Api, putih-angin,
dan hitam melambangkan tanah
.
Dan bangunan warna coklat adalah tempat para
pengikut bersemedi agar dapat bertemu
dengan Eyang Sapu Jagad

image 4.

image 5.


image 6.

image 7.
image 8. Bangunan warna coklat adalah tempat para
pengikut bersemedi agar dapat bertemu
dengan Eyang Sapu Jagad. Orangnya gagah,
berumur sekitar 50 tahunan dan masih tegap,
dengan kumis yang lebat. Bertampang sangar,
orang yang baru bertemu di jamin akan
ketakutan karena wajah sangarnya tersebut



image 9.

image 10.




image 11.

image 12.


 NB : Berbagai Sumber

 Taurus Vocation

Makam Mbah Suroyudo, Tajinan


Makam Mbah Suroyudo atau dikenal juga dengan Mbah Qosim atau Mbah Jalaluddin ini terletak di Jalan Suroyudo Dusun Mertoyoso Desa Ngawonggo Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang Propinsi Jawa Timur. Lokasi makam yang dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi (baik roda dua maupun empat), sekitar 10 menit arah tenggara dari kantor Kecamatan Tajinan ini merupakan makam Auliya’ sekaligus merupakan orang yang mengawali membangun desa Ngawonggo atau istilahnya babad alas desa ini. Keadaan jalan menuju makam Mbah Suroyudo cukup baik, karena telah beraspal dan juga merupakan jalan alternatif dari daerah kecamatan Wajak menuju Kota Malang. Akan tetapi belum ada angkutan umum yang melalui daerah itu, selain angkutan ojek. Untuk mencapai lokasi makam dengan menggunakan angkutan umum dapat ditempuh dengan angkutan pedesaan dari terminal Hamid Rusdi kota Malang yang melalui pasar Tajinan, kemudian naik ojek dari pasar Tajinan menuju makam dengan kisaran ongkos ojek Rp.5.000 – 7.500.

Mbah Suroyudo berasal dari Ponorogo Jawa Timur, yang memiliki nama kecil Qosim. Terlahir dari Ibu beliau yang bernama Suti dan Ayah yang bernama Cipto. Mbah Suroyudo pertama kali “Nyecep Ilmu” (Belajar) dan juga diislamkan oleh guru yang pertama yaitu “Eyang Betoro Katong” beliau merupakan Ratunya Waro’ Ponorogo yang diislamkan oleh Sunan Ampel. Kemudian Eyang Betoro Katong memerintahkan Mbah Suroyudo untuk nyecep ilmu kepada Sunan Kalijaga. Selama tiga tahun Mbah Suroyudo belajar dari Sunan Kalijaga, di sana beliau diislamkan lagi oleh Sunan Kalijaga dan diberi nama “Jalaluddin” pada tahun 1467 M (872 H). Pada tahun 1470 M (875 H) Sunan Kalijaga memerintahkan Mbah Suroyudo untuk nyecep ilmu kepada Sunan Mbayat. Kemudian tepatnya tahun 1476 M (881 H) Sunan Mbayat menugaskan Mbah Suroyudo untuk menyebarkan Agama Islam di Pulau Jawa dengan ditemani seekor macan putih. Sunan Mbyat mengatakan kepada Mbah Suroyudo : “ Gogor gering-geringen iki ramuten, yen kerso waras ajaken nyebarno agomo, yen katon lintang kemukus dek no padepokan ing kono”. Dengan takdir Alloh SWT, Mbah Suroyudo melihat Bintang Kemukus ketika berada di daerah Ngawonggo, dan beliaupun mendirikan “Padepokan” atau Pesantren yang terletak di area makam ini.

Di Padepokan inilah Mbah Suroyudo mengajarkan ilmu kanuragan dan juga ilmu agama. Pada tahun 1487 M (892) Mbah Suroyudo memimpin pasukan perang dengan membawa 400 orang relawan dari desa Ngawonggo dan sekitarnya dengan berjalan kaki menuju ke Demak untuk melawan Portugis yang menyusup kedalam kerajaan Mataram, yang berusaha menjatuhkan kerajaan Demak kekuasaan Wali Songo, oleh karena itu beliau mendapatkan gelar “Suroyudo” yang artinya; Suro “Berani” dan Yudo “Perang”. Mbah Suroyudo wafat pada hari senin tanggal 14 bulan Maulud tahun 1503 M (908 H) dalam usia 211 tahun.

NB : Berbagai Sumber 

Taurus Vocation

Minggu, 25 November 2012

Masjid Tiban, Turen

 Bukan tanpa dasar kalo masjid ini disebut masjid tiban, yg katanya orang sekitarnya tidak tahu kapan membangunnya , tiba2 sudah megah berdiri.
Sampai beberapa orang menyebutkan masjid ini dibangun oleh jin, entah benar atau tidak.
Namun yg pasti , masjid ini tidak dibangun menggunakan alat2 berat meskipun bangunannya sangat megah.

Kabarnya masjid ini dibangun oleh para santri sedikit demi sedikit.
Corak ukiran khas timur tengah kental mewarnai setiap dinding.
Info, lokasinya terletak di desa sananrejo - Turen,bisa lewat wajak.
Ini gerbang depan.
Untuk masuk kesini anda ngga dikenakan biaya alias gratis.
Buat yang luar daerah, bisa juga membeli oleh - oleh untuk yang di rumah dengan harga yang sangat murah.
dan untuk lebih lanjut, buktikan saja pasti dijamin tidak menyesal

Untuk info, jikalau anda datang kesini bertepatan sholat, maka gerbang ditutup sementara waktu.
Lantai masjid ini mencapai 10 lantai,wow.
Suasana yg penulis rasakan, nek jare wong jowo "singup", hehehehe
Ya sekali kali wisata religi.
Perlu diingat dan di-remember ,Setiap masuk anda harus mendaftar dulu, keluarnya pun juga musti lapor, jika tidak bisa berabe :P
namanya aja sowan, mertamu.



Sudah lama sekali ingin pergi ke Pondok yang terkenal dengan kemegahannya itu, yang aku dengar dari orang-orang bahwa para pekerja pembangunannya menggunakan bantuan/perewangan dari jin. Hati pun penasaran dan akhirnya kesampaian sekarang walaupun maksud hati sudah lama sekali ingin segera pergi ke ponpes tersebut. Bayangkan, aku bekerja di malang selatan sudah hampir 6 tahun, tapi belum pernah melihat bagunan islam yang megah yang ada di daerah malang selatan, yang sudah pernah dikunjungi oleh orang-orang diluar wilayahku, malu sekali rasanya kalau aku ditanyai orang kalau aku yang dekat dengan situ menjawab dengan jawaban tidak tahu. Ini pesanku, jangan suka mempercayai omongan-omongan buruk orang lain tentang Ponpes yang di bangun dengan perewangan Jin itu kalau kau tidak mengalaminya sendiri. Aku paling suka membuktikan sendiri apa yang di gosipkan orang dengan mendatanginya dan melihatnya langsung. Itupun tidak ada paksaan, kalau kau berani………..Intinya Ponpes ini bukan tempat rekreasi, tapi wisata religi, harus berseragam muslim, karena aku seorang muslim.
 
Rintisan Ponpes Bi Ba’a Fadlrah ini dimulai pada 1963 oleh Romo Kyai Haji Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam, atau yang akrab disapa Romo Kyai Ahmad.
NB : Berbagai Sumber 

Taurus Vocation

Gunung kawi, Wonosari

Seperti dataran tinggi lainnya, Gunung Kawi menawarkan keindahan pegunungan asri dengan udara yang menyegarkan. Lebih dari itu, Gunung Kawi ternyata memiliki magnet lain yang sangat kuat sebagai daya tarik. Bagi sebagian orang, Gunung Kawi adalah salah satu tujuan wisata religius sekaligus simbol kemakmuran. Pesarehan Gunung Kawi merupakan daerah wisata yang unik, karena bertahun-tahun memendam mitos bahwa daerah ini merupakan tempat untuk mencari ‘pesugihan’ atau kekayaan, terutama bagi orang-orang keturunan Tionghoa. Siapapun yang datang ke sini dan mendapatkan berkah maka usahanya akan maju dengan pesat dan meraih keuntungan yang berlipat-lipat. Yang paling menarik adalah hampir tiap tahun pesarehan ini penuh sesak dengan peziarah. Dan kebanyakkan mereka adalah orang-orang yang pernah datang kesini sebelumnya. Mereka kembali karena telah mendapatkan ’pesugihan’ itu dan supaya tetap langgeng mereka harus datang lagi sesering mungkin. Konon banyak juga pengusaha etnis China ternama dari Jakarta yang sering datang ke tempat ini.

Kawasan Gunung Kawi, terletak di ketinggian 500 sampai dengan 3000 meter di atas permukaan laut. Persisnya berada di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang Jawa Timur. Dulu daerah ini disebut Ngajum. Sekarang berubah menjadi Wonosari, ‘wono’ berarti hutan, sedangkan ‘sari’ berarti inti. Namun bagi warga setempat, Wonosari dimaksudkan sebagai pusat rezeki yang dapat menghasilkan uang secara cepat.

Gunung Kawi berkembang menjadi daerah tujuan wisata ziarah sejak tahun 1980-an. Meskipun terletak terpencil di sebuah desa di atas bukit tapi Anda akan menemukan keramaian yang luar biasa layaknya sebuah perkampungan di kota. Di sini ada banyak tempat hiburan malam, penginapan, restoran dan warung-warung kaki lima yang berjejeran di sepanjang kanan kiri jalan menuju komplek pesarehan. Padahal menuju daerah ini, sepanjang perjalanan anda masih tetap disuguhi pemandangan pedesaan dan pegunungan yang tenang dan sepi. Daerah sekitar pesarehan ini merupakan daerah pertanian yang subur, penghasil ketela ungu Gunung Kawi yang terkenal itu, sejenis ketela rambat kecil-kecil berwarna ungu yang rasanya manis sekali. Ketela ini banyak dijual di area pesarehan sebagai oleh-oleh khas Gunung Kawi.


Dari kota Malang, Anda bisa menggunakan bis antar kota Malang-Blitar turun di Kepanjen, kemudian dilanjutkan naik mikrolet menuju Gunung Kawi sepanjang 18 km. Tarif bis antar kotanya cukup murah Rp 2.000 namun mikroletnya cukup mahal Rp. 15.000. Untuk arah kembalinya cukup sulit karena melewati jam 3 sore sudah jarang ditemukan. Sebaiknya memesan mikrolet yang Anda tumpangi dari awal dengan tarif Rp. 45.000, supirnya akan menunggu sampai Anda selesai menjelajah pesarehan. Kalau ingin menginap, penginapan kelas melati banyak tersedia.

Di Gunung Kawi terdapat dua makam tokoh kejawen; RM Imam Soedjono (wafat 8 Februari 1876) dan Kanjeng Zakaria II alias Mbah Djoego (wafat 22 Januari 1871). Keterangan tertulis di prasasti depan makam menyebutkan, Mbah Djoego ini buyut dari Susuhanan Pakubuwono I (yang memerintah Kraton Kertosuro 1705-1717). Adapun RM Imam Soedjono buyut dari Sultan Hamengku Buwono I (memerintah Kraton Jogjakarta pada 1755-1892).

Berkunjung ke kawasan Gunung Kawi, suasana magisnya sangat terasa. Bau asap dupa tercium di mana-mana. Biasanya masyarakat melakukan pemujaan di pesarehan pada hari Kamis Legi, Jumat Kliwon dan malam Sabtu Suro. Pemujaan dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan. Untuk memasuki pasarean ini, harus melewati tiga gapura dan anak tangga sejauh 750 meter. Di setiap gapura terdapat relief perjuangan Eyang Jugo dan Sujo. Jalan menuju pesarehan merupakan pedestrian yang cukup luas, di kanan-kiri jalan banyak lapak-lapak berjualan aneka kuliner, bunga untuk sesaji dan oleh-oleh khas Gunung Kawi. Terlihat juga banyak lapak yang berjualan bibit pohon Dewandaru. Sementara kuliner yang dijual kebanyakan adalah jajanan kuno khas Jawa Timur seperti rujak cingur, lupis, gatot, horok-horok, bledus, dll.

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para pezirah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja. mereka berjalan dengan lutut. Menurut RM Nanang Yuwono Hadiprojo, keturunan ke-5 RM Imam Sujono. Image bahwa tempat ini sebagai tempat pesugihan adalah tidak beralasan. Tempat pesugihan itu memiliki beberapa kriteria, antara lain, tempatnya menyeramkan, jauh dari pemukiman masyarakat, dan tidak ada tempat ibadah. Sementara di tempat ini, tempatnya tidak menyeramkan, dekat dengan pemukiman masyarakat, dan banyak tempat ibadah.

Sementara di luar makam, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon itulah yang disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Dari bentuknya, pohon ini mirip pohon ceremai, yang diduga berasal dari negeri Cina. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman. Untuk mendapat keberuntungan, para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Namun, untuk mendapatkannya memerlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran. Sepeti halnya pada malam Jumat Legi ini, salah seorang peziarah melakukan syukuran dengan menggelar pementasan wayang kulit. Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari pesugihan. Mitos ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan berkahnya. Fact or Myth? Let's prove it!

Tip
*Untuk yang tidak ingin menginap sebaiknya menyewa mobil sendiri dan supirnya dari kota Malang supaya bisa lebih lama dan tidak tergantung dengan ketersediaan angkutan.
*Di area pesarehan banyak guide lokal yang menawarkan jasa, jika Anda merasa tidak membutuhkan tolak dari awal supaya tidak mengikuti Anda terus.
*Oleh-oleh yang dijual bisa ditawar sampai 30% lebih murah. Harga yang Anda dapatkan bergantung pada kepandaian Anda bernegoisasi dengan penjual.
*Sebaiknya jangan memotret di dalam area pesarean dan belilah bunga untuk menghormati meskipun bukan suatu keharusan.

 NB : Berbagai Sumber 

Taurus Vocation

Pertapaan Karmel Ngadireso, Poncokusumo



Pertamaan Bukit karmel adalah Bukit doa dari Agama Katholik, diperuntukkan untuk acara retreat dan kegiatan keagaam lainnya. tempat ini adalah bagian dari Paroki Keuskupan Malang.

berjalan - jalan disini cukup bisa memberikan kedamaian dihati, selain karena biayanya murah, lokasinya cukup dingin, karena terdapat di daerah Dataran tinggi tepatnya di lereng Gunung Semeru.

biasanya dalam acara Tahunan banyak di  datangi peziarah dari daerah di dalam kota maupun sampai manca negara, ngga ada salahnya buat yang beda keyakinan untuk bisa berjalan - jalan sekalian bisa hunting foto
tempatnya didaerah Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten malang, Sekitar 35 km arah Timur Kota Malang

NB : Berbagai Sumber 

Taurus Vocation